Berita  

MCC 2026 Cetak Generasi Creator, Kompetisi Coding Nasional Ungkap Potensi Digital Anak Indonesia

Bandung,FCJabar.com                                     Di tengah derasnya arus anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu sebagai pengguna gim digital, sebuah kompetisi nasional justru menghadirkan pesan berbeda. Minda CodeLab Game Competition (MCC) 2026 membuktikan bahwa anak Indonesia tidak hanya mampu memainkan teknologi, tetapi juga mampu menciptakannya.

Mengusung tema “Game Simulasi Belajar”, kompetisi koding tingkat nasional ini resmi berakhir setelah melalui rangkaian seleksi yang berlangsung secara ketat. Ajang tersebut ditujukan bagi siswa Sekolah Dasar kelas 3 hingga kelas 6 (usia 8–14 tahun) untuk mengembangkan kreativitas melalui pembuatan gim edukatif menggunakan platform pemrograman Scratch.

Puncak kompetisi digelar secara offline pada 12 Juli 2026. Dari ratusan karya yang masuk pada tahap penyisihan daring, dewan juri akhirnya menetapkan tiga kreator muda terbaik nasional.

Gelar Juara 1 diraih Kai Khalaquil Mukti dari Cendekia Leadership School Bandung, disusul Faza Almira Azzahra dari SD Tridaya Tunas Bangsa sebagai Juara 2, serta Deshka Albarra dari SD Talenta Juara Cimahi sebagai Juara 3.

Keberhasilan ketiganya menjadi bukti bahwa kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), kreativitas, serta pemecahan masalah dapat mulai diasah sejak usia sekolah dasar apabila memperoleh ruang belajar yang tepat.

Seleksi Ketat, Finalis Wajib Mengoding dari Nol

Berbeda dengan kompetisi yang hanya menilai hasil akhir, MCC 2026 menerapkan mekanisme validasi yang dirancang untuk memastikan seluruh karya benar-benar merupakan hasil kemampuan peserta.

Seluruh finalis diwajibkan menyusun ulang program permainan dari awal (coding from scratch) menggunakan kanvas kosong. Mereka hanya diberikan file aset berekstensi .sb3 yang berisi elemen visual dan audio tanpa blok program, sehingga seluruh logika permainan harus dibangun kembali secara mandiri.

Selain mengoding secara langsung, setiap finalis juga harus menjalani sesi pitching selama sekitar 5–7 menit. Dalam sesi tersebut, peserta mempresentasikan tujuan edukasi permainan yang dibuat, menjelaskan mekanisme permainan, hingga menguraikan bagian logika pemrograman yang paling kompleks selama proses pengembangan.

Model penilaian ini menjadi salah satu upaya menjaga integritas kompetisi sekaligus memastikan kemampuan teknis peserta benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Kompetisi Gratis, Mendorong Pemerataan Literasi Digital

Menariknya, seluruh rangkaian MCC 2026 diselenggarakan tanpa biaya pendaftaran. Peserta mengikuti tahap penyisihan secara daring dengan mengirimkan tautan proyek gim mereka hingga batas waktu 4 Juli 2026.

Enam karya terbaik kemudian dipilih sebagai Top 6 Finalis dan diundang mengikuti Grand Final untuk mempresentasikan sekaligus mendemonstrasikan langsung hasil karya mereka di hadapan dewan juri.

Skema ini membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak dari berbagai sekolah untuk menunjukkan kemampuan tanpa terkendala faktor biaya.

Membangun Generasi Pencipta Teknologi

Lebih dari sekadar perlombaan, MCC 2026 mengangkat pesan penting mengenai arah pendidikan digital Indonesia.

Di era transformasi teknologi dan kecerdasan buatan, kemampuan membuat program komputer, memahami logika algoritma, serta berpikir kreatif menjadi bekal penting bagi generasi muda. Kompetisi seperti MCC menunjukkan bahwa anak-anak tidak harus berhenti sebagai pengguna aplikasi atau pemain gim, tetapi memiliki peluang besar menjadi inovator yang mampu menciptakan solusi digital sejak usia dini.

Prestasi yang diraih Kai Khalaquil Mukti, Faza Almira Azzahra, dan Deshka Albarra diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar lain di seluruh Indonesia untuk mulai mengenal dunia pemrograman dan mengembangkan kreativitas melalui teknologi.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Minda CodeLab, lembaga kursus coding anak yang beralamat di Jalan Permata Bumi No. 2, Bandung, melalui slogan “Sahabat Terbaikmu di Dunia Koding”.

Melalui pendekatan pembelajaran yang kreatif, Minda CodeLab terus mengampanyekan filosofi sederhana namun relevan dengan kebutuhan masa depan: mendorong anak menjadi creator, bukan sekadar player. Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan teknologi Indonesia akan ditentukan oleh generasi yang mampu menciptakan inovasi, bukan hanya menggunakannya.***

Editor: Indra Fuji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *