Berita  

Aktivis 98 Tolak Pilkada Via Dewan : Hutan Digunduli Tak Berkotek Giliran Pilkada Dipilih Dewan Kompak ABS!

FC JABAR (6 /1/2026) Aktivis 98 Front Pemuda Penegak Hak Rakyat (FPPHR) Cici Mintarsih Cempaka bersuara keras menolak pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Penggiat pendidikan ini mengatakan, narasi pilkada dipilih dewan, jika dalihnya untuk efisiensi itu jelas penipuan publik!

“Menurut saya, sudahilah perilaku parpol melakukan politik bersiasat membohongi rakyat menggelindingkan narasi pilkada dipilih dewan itu demi efisiensi. Saya menilai parpol yang mendorong isu ini hipokrit! Kalau alasannya demi efisiensi, kenapa parpol pendorong isu pilkada dipilih dewan itu tidak berteriak stop dana banpol? Itu kan jelas efisiensi,” kata Cici saat diwawancarai FC Jabar , Selasa (6/1/2026)

Ia melanjutkan, mengendus akal-akalan politik parpol pendukung pemerintah dibalik penggulirkan wacana pilkada dipilih dewan.

“Parpol yang tergabung di koalisi permanen itu sebenarnya memiliki target terselubung dengan bungkus isu pilkada dipilih dewan. Dan, secara tak langsung yang dilakukannya sudah mengibarkan bendera memusuhi rakyat dengan merampas hak rakyat. Juga melakukan pembodohan demokrasi!,” tandasnya.

Cici juga menyampaikan perbandingan, pilkada di luar negeri. Kata dia, di Amerika Serikat kepala daerahnya dipilih langsung oleh penduduk setempat.

“Begitu juga di Korea Selatan, sejak tahun 1995, gubernur dan walikota dipilih langsung oleh warga setempat melalui pemilihan lokal. Serta, Filipina hingga Jerman, seperti di Baden-Württemberg dan Bavaria, walikota atau chief executive dipilih langsung oleh penduduk lokal, bukan oleh dewan kota,” ucapnya.

Jadi, jika pilkada kembali ingin dipilih dewan, ia berbalik mempertanyakan apakah anggota dewan itu merupakan sosok bersih yang memberi jaminan terbebas dari politik uang?

“Saya kira tak jaminan tuntas politik uang jika melalui dewan. Tak ada jaminan juga efisiensi akan terjadi. Tak ada jaimnan juga politik dagang sapi akan ditiadakan. Nah, artinya, parpol pendukung pilkada melalui dewan itu, patut dicurigai barangkali ke depannya punya maksud membudayakan politik ‘dagang sapi’ atau politik uang?,” tandas Cici.

Pendapatnya, pilkada dipilih dewan itu tak ada faedahnya sama sekali. Malah sebaliknya, pendukung wacana pilkada dipilih dewan seolah seperti politisi perindu Orba.
“Ketahuilah rakyat bisa marah! Saat hak rakyat dirampas, saat demokrasi diserobot dengan Bahasa pembohongan demi efisiensi, rakyat sekarang sudah kritis, bro. Protes yang dilakukan rakyat nanti bisa jadi tak hanya melalui aksi demonstrasi, tapi juga akan memenuhi ruang medsos untuk sampaikan keberatan haknya direbut dan menolak dibodohi!,” pungkas Cici.

Reporter : Andri  Pelani

Editor : Indra Forwaci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *