SUMEDANG, FCjabar.com — Sebanyak 486 siswa SMPN 4 Jatinangor mengikuti kegiatan Sapa Sekolah Edisi Mitigasi Kebencanaan yang digelar di lingkungan sekolah, Kamis (17/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi para siswa untuk mengenali risiko bencana sekaligus memahami langkah penyelamatan diri ketika menghadapi situasi darurat.
Kegiatan diikuti para siswa bersama jajaran guru dan staf sekolah. Sejak awal hingga kegiatan berakhir, peserta terlihat antusias mengikuti materi maupun praktik yang diberikan oleh tim relawan kemanusiaan.
Sebanyak lima relawan dengan kualifikasi di bidang penanggulangan bencana terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya memberikan pengetahuan dasar mengenai kebencanaan, tetapi juga mengajak siswa memahami pentingnya kesiapsiagaan di lingkungan sekolah.
Dalam sesi edukasi, para relawan membahas dua ancaman bencana yang menjadi fokus utama, yakni gempa bumi dan kebakaran. Materi mencakup pengenalan potensi bahaya, faktor risiko, langkah pencegahan, hingga tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya tetap tenang, mengenali kondisi sekitar, serta mengambil langkah penyelamatan secara cepat dan tepat. Pengetahuan tersebut dinilai penting karena keadaan darurat dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk bersiap.
Tidak Sekadar Teori, Siswa Ikuti Simulasi
Edukasi kemudian dilanjutkan dengan praktik dan simulasi evakuasi mandiri di halaman sekolah. Dalam simulasi gempa, siswa diperkenalkan pada langkah perlindungan diri serta proses evakuasi menuju titik kumpul atau assembly point yang telah ditentukan.
Selain itu, siswa mendapatkan edukasi mengenai penggunaan alat pemadam api secara benar dan aman untuk menangani kebakaran dalam skala kecil. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung sehingga materi yang sebelumnya disampaikan secara teori dapat lebih mudah dipahami dan diingat.
Kegiatan berlangsung dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Para siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam simulasi sehingga memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

Sekolah Menjadi Ruang Penting Edukasi Kebencanaan
Program Sapa Sekolah Edisi Mitigasi Kebencanaan juga menjadi pengingat bahwa pendidikan mengenai bencana tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Pengetahuan tentang pencegahan, kesiapsiagaan, evakuasi, dan penyelamatan diri perlu diperkenalkan sejak dini.
Lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya aman. Dengan pemahaman yang baik, siswa diharapkan mampu mengenali risiko di sekitarnya dan mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak ketika bencana terjadi.
Lebih jauh, pengetahuan yang diperoleh para siswa diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Mereka dapat membagikan kembali informasi tersebut kepada orang tua, saudara, dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Dengan demikian, edukasi kebencanaan dapat berkembang dari satu ruang kelas ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Satu siswa yang memahami cara menyelamatkan diri dapat menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih siap menghadapi keadaan darurat.
Kegiatan Sapa Sekolah di SMPN 4 Jatinangor pun menegaskan satu pesan penting: kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan tentang bencana, tetapi kemampuan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.
Menanamkan pengetahuan tersebut kepada generasi muda sejak dini merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sadar risiko, tanggap terhadap keadaan darurat, dan memiliki kemampuan untuk saling membantu ketika menghadapi bencana.


Editor : Indra puji









